Sabtu, 10 Desember 2011

Puisi Religi

Kesekedaran Sujudku

16 November 2011

Aku habiskan 2/3 keheningan
Dengan kata,gelisah,dan kebisuan
Sisanya adalah tempat hinaku
Kala ku cium hangat bumi di selembar materi

Meski kelopak tak sempat menutup
Sujud tak pernah dimahalkan
Untuk mencium mengenali aroma diri
Karena di sana aku akan kembali

Ratapan hitam tak bertepi
Kasih sayang adalah harapanku
Yang akan mengantarkan dengan sungguhku
Dengan kesekedaranku yang hanya Allah yang tahu
Bacaku hatiku
Aku kembali
Aku kembalikan diri
Untuk harapan suci tiada henti




Menanti Ajal Meminangku

27 Oktober 2011

Aku tahu
Dari jauh jauh waktu aku tahu
Tapi seperti tidak mengerti

Bagaimana nanti aku menghadapi
Ketika aku masih lusuh
Penuh noda dan kotor

Aku takut ia tidak ramah
Menyakitkan dalam pinangan
Bersuara keras menggelisahkan
Menjadikanku pengantin sengsara

Semoga dia tidak datang esok
Meski kabarnya dekat bersuara
Aku ingin dipinang mesra
Dinikahi dengan getaran langit
Direbahkan di ranjang penuh bunga

Kirimkan pesan indah sebelum hadirmu
Biarkan aku memohon kepada Sang Penghulu
Untuk membuatku ahli & mengerti
Sehingga bisa mendapati bunga-bunga diranjang terakhirku




Dalam Sepertiga

16 November 2011

Ku rindukan air mata di kala hening
Berharap meresap bening ke dalam hati
Ribuan waktu teringkas singkat
Dalam sebagian dari sepertiga

Dialah Yang Maha Pemurah
Sedangkan hamba begitu menghitung sedikitnya
Melalui kesekedaran tak sepatutnya
Hingga berharap kasih sayang'Mu menghinggapi hamba

Tiada setitik pun ada bangga
Terkecuali kasih sayang'Mu melalui agama'Mu
Yang masih terengkuh kesekedaran
Maka hamba mohonkan
kepada'Mu
Berilah kekuatan kemudian cintailah hamba
Meski setetes dari Sang Maha Cinta

Aku fakir aku miskin
Dari amal,ilmu,& pengorbanan
Sehingga takut benar-benar meraja
Kehinaanku ditunggangi setan menjadi kuda pacu
Lalu aku terlepas dari diri
Na'udzubillah

Jadikanlah hamba menjadi hamba
Tunjukanlah aku menjadi aku
Pertemukan diri dengan diri
Karena hamba memohon dari permintaan'Mu
Berharap dari perintah'Mu
Sebab tak ingin menyentuh selendang'Mu

Engkaulah cintaku





Jumat, 09 Desember 2011

Puisi Malam



Rindu Bunga Tidurku

4 November 2011

Malam begitu mendalam
Kelam tersulam sejak silam
Bunga tidurku terabaikan
Kala resah menjaga kelopak

Bunga di malam yang menghibur siangku
Kini layu
Tak tersiram lelapku
Lelah yang mengganggu lelahku

Seolah tak merindukan malam
Aku mulai mengabaikan perjalanan fajar
Dari redup hingga berbinar sinar menjalar

Bukan dalam kehendak sadarku
Mungkin sekedar kehendak di bawah sadarku
Atau hanya sebuah rahasia hikmah
Yang tersenyum menepuk desah

Jika ini jika
Aku penuhi undangan sesekali
Didorong setitik malu
Meski tak selalu
Ku dihadang kelu

Aku hanya ingin biasa
Dengan kesekedaran saja
Jika ada yang perlu ku tahu
Mungkin waktu ingin membentukku di luar biasa
Jika itu
Aku sambutkan amin

Tapi tanpa harus aku tahu
Aku begitu rindu
Aku rindu bunga tidurku





Insomniakah?

31 Oktober 2011

GA-lau selimut direbahku
BI-as hati penuh tanda hingga kini
SA-at tanya terus mendera dalam dada
TI-dak pun selalu menjadi jawaban mengerti
DUR-asi mimpi semakin menyingkat dan terkebiri
SE-lalu terulang dunia hilang yang malang
TI-mbulan renjana yang tak terurai
AP-i tersembunyi yang terasa hangatnya
MA-lam menjadi siang malasku
LAM-pu imaji terang bersinar di sudut kamar
DA-lam tak ingin sadarku
TANG-an meraba ke rimba gulita

Puisi Sosial

Untuk Yang Berseragam

22 Oktober 2011

Seragam gagah berbau hantu
Siapa yang ada di balik itu
Manusia dirasuk keadaan
Ketakutanku tak sampai pada ragamu

Ketika aku berjalan
Ku lihat kau & kau ada di jalan
Membawa titipan pertanggung jawaban
Tak kuasa aku menyalahkan cubitanmu

Ketika aku jadi anak kambing berwarna putih
Kau dari kau menghitamkanku
Tak usahlah kau mengasihaniku
Karena sesungguhnya aku lebih mengasihanimu

Aku selalu teringat anak istrimu
Yang mereka tak menahu tentang kau dari kau
Dan hanya menunggu kabar gembira sang kepala

Ya...
Aku terbayang sang kepala
Ketika aku akan merasakannya
Jadi...
Marilah kita goreskan do'a di hamparan waktu
Karena tidak ada benar yang tidak salah

PUISI KU


KESENDUANKU

11 Oktober 2011

L-ewat semilir angin aku berbisik
I-ndah hati & ragamu telah menyentuhku
A-rahkan keheningan pada senyum

L-alu aku mulai mengerti
I-ntan indah kau simpan di hati
A-jariku utk memahami makna arti

L-epas segera aku bersuara
I-tu sungguh tak terduga
A-khir'y kau cairkan keraguanku

L-embut I-mut & A-nggun
I-rama cantikmu tak terbendung
A-lunan'y terus bersenandung

L-ama kini tak bertemu
I-ni rindu menderu & ragu
A-pa kau telah trdamping?

L-elah sungguh aku bertanya
I-daman yang mungkin semu
A-singkanku dalam sendu

L-entera jiwa telah menyala,& andai
I-jab qobul telah kau ucap aku ikhlas
A-salkan kau bahagia





Imajinasi

3 November 2011

Mengikuti gerak detik & de-TAK
Ribuan galau menyerang bertu-BI
Senyumku begitu hambar tera-SA
dan kau yang telah menjadi sum-BER
Segala perih,galau,& nesta-PA
Membuat jiwa resah bergu-LING
Dimana ruang waktu kau selalu a-DA
Mengisi celah hati & ha-RI
Meski ku akui kau tetap se-MU






Cinta & Trauma

13 Juli 2011

Seperti ucapan mentari saat mbelai bumi
Ku terpaku memandangmu membina haru
Melukis semu meronakan biru
Meredup asaku etrtiup ragu

Bak rembulan terhalang awan kelabu
Pandanganku dihadang sedih trauma lalu
Aku larut dalam seribu kalut
Saat resah mnjelma dalam debaran
Iringi kidung rindu yg terlantunkn.

Mengasah cinta dengan tatapan
Tajamnya menggores hati di cermin kamar
Alirkan perih membuih di setengah hati





Add caption
Dari Lembah

19 Juli 2011

Aku lahir dari lembah kecil
Dari sebuah semak yg terisolir
Yang berusaha beranjak menapaki bukit
Dengan tetap mengenal penghuni lembah.
Hatiku tipis seperti ari
Mudah menangis mudah merasa
Tapi kesalahannya aku tanggung sendiri
Karena hati ini yg seperti ini.
Kadang sakit terpendam diam
Mata mengembang dipenuhi mutiara
Bah terbendung terhembus desah
Kata-kata mengalir tanpa ikatan.







 
Jendelaku Berair

14 Juni 2011

Jendelaku berair
Diiring angin dingin di celah ventilasi
Terbaring berguling meradang
Sakit menjadi raja kegelapan
Yang memenjarakan pekik tangis dalam hati
Jiwa terbakar raga membara
Semua terkurung dalam ruang sepi
Aku adalah penguasa lara

Kamis, 01 Desember 2011

LAGUKU

Terlukis Indah

Walau pun aku telah mencoba 'tuk melupakanmu
Namun diriku tak pernah bisa menghapus namamu
Kar'na diriku kini t'lah buta di dalam cintamu
Biar pun kau mengukirkan luka di dalam jiwaku
Tak akan pernah aku merasa perih di hatiku
tertutup dengan semua rasa cintaku padamu

Kau terlukiskan indah di dalam khayalku
Bayangmu terangkai di dalam angan-anganku
Kau bunga yang kini bersemi menebarkan wangi
Menggoda segenap hasratku 'tuk memilikimu

Wahai bidadari berikan cintamu
Ku kan s'lalu setia menunggu dirimu
Wahai pelita malam pancarkan cah'yamu
Walau hanya sekedar untuk membuaiku

Engkaulah sang melati merekah bersemi
Yang kini mekar mewangi mengharumi hati
(Engkaulah sang maharani di alam anganku,meratui s'luruh isi dunia khayalku)